Tahu Bandung; Laris di Pasaran dengan Harga Tertinggi

JAKARTA, NIAT News – Siapa tak kenal Tahu? Makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini merupakan satu dari sekian banyak makanan populer di Indonesia. Meski terbuat dari bahan yang sama, Tahu kini punya berbagai julukan.

Tahu Bandung Kunyit Asli

Tahu tidak lagi dibedakan dari segi warna – putih dan kuning. Sebagai makanan yang banyak diminati oleh masyarakat, Tahu kini memiliki berbagai nama. Nama Tahu seringkali diambil dari nama daerah yang memproduksinya. Sebut saja, Tahu Sumedang yang diproduksi di Sumedang dan Tahu Bandung yang berasal dari Kota Bandung. Selain itu, ada pula Tahu Takua – Tahu yang populer di daerah Surakarta.

Meski Tahu mulai muncul dengan berbagai julukan, Tahu Bandung merupakan salah satu Tahu yang tergolong laris dan bersaing dalam pasaran. Selain terkenal dengan rasanya yang lezat, Tahu Bandung  dijual dengan harga tertinggi di pasaran dibandingkan dengan Tahu lainnya. Karena popularitasnya, Tahu ini kini telah menjadi salah satu pilihan buah tangan khas Bandung.

Akan tetapi, masyarakat Jakarta tak perlu pergi ke Bandung untuk mendapatkan Tahu jenis ini. 4 Cabang Pabrik Tahu Bandung sudah tersebar di Jakarta,  salah satunya terletak di Cipinang Melayu Rt.05/03, Jakarta Timur. Pabrik yang didirikan pada tahun 1998 ini dikenal dengan sebutan “Tahu Bandung Kunyit Asli”.

Bapak Nawi, Pemilik Pabrik tersebut menuturkan, “Kami biasa mendapatkan bahan-bahan pembuatan tahu dari para juragan kedelai, kunyit, dan garam yang khusus didatangkan dari Bandung. Pabrik ini mempunyai 4 orang karyawan dan 15 orang khusus untuk distribusi produk”.

Setiap hari, Pabrik Tahu tersebut mengolah 15 kwintal kedelai untuk menghasilkan 1.500 Tahu. Tahu-tahu tersebut kemudian didistribusikan ke wilayah Kalibata, Klender, Gembrong, Tebet, Ciplak, dan Pasar Minggu.

Bisnis Tahu yang dilakoni oleh Bapak Nawi berhasil meraup keuntungan hingga 3 juta per hari. Laba tersebut kemudian dipergunakan oleh pemilik pabrik untuk membeli bahan baku, upah karyawan, kebersihan pabrik dan menafkahi keluarga.

Meski tergolong sukses, lelaki yang berasal dari Bandung ini mengaku pernah bangkrut. “Pabrik kami (pernah) tutup akibat kelonjakan harga kedelai yang sangat tinggi. Biasanya Rp 5000/ kg, pas naik Rp 8000/ kg, akhirnya kami para pengusaha tahu membuat demo besar-besaran kepada pemerintah. Setelah kami demo, harga kedelai turun menjadi Rp 7650/ kg“ tutur Bapak Nawi saat ditemui di Pabrik miliknya hari ini (31/3).   ( PL )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s